Informasi: Sejenak tentang peta hidup lewat jurnal pribadi
Pagi ini aku duduk di meja yang agak bergetar karena printer lama yang kebiasaannya kebangeten menyalak sendiri. Aku menulis di jurnal pribadi yang kuanggap sebagai peta kecil: bukan untuk pamer, melainkan untuk memahami diri sendiri. Di sini aku menulis hal-hal sederhana—apa yang membuatku bahagia, apa yang membuatku lelah, dan hal-hal kecil yang sering terlewatkan oleh rutinitas. Aku merasakan bahwa menuliskan hal-hal kecil itu justru memberi arah besar pada hidup dan karier, seperti menengok peta saat tersesat di kota sendiri.
Hidup terasa seperti perpaduan antara pivot dan rutinitas. Pagi aku bisa memprioritaskan pekerjaan yang punya dampak nyata, sore untuk keluarga, malam untuk refleksi diri. Jurnal ini membantu menjaga ritme itu tanpa kehilangan diri. Aku belajar bahwa karier tidak cuma soal menaikkan jabatan, melainkan bagaimana kita tumbuh sebagai manusia: kemampuan belajar, empati terhadap orang lain, dan keberanian bertanya saat jawaban terlalu simplistis.
Saya sering mencari inspirasi dari berbagai sumber. Salah satu yang cukup sering kutemui adalah imradhakrishnan—bukan untuk meniru, melainkan untuk melihat bagaimana ide-ide besar bisa ditata agar tetap manusiawi. Lewat catatan ini aku ingin menguji konsep itu dalam keseharian: bagaimana memberi umpan balik yang jujur tanpa menumbangkan semangat, bagaimana menimbang risiko tanpa kehilangan nilai, bagaimana menjaga keseimbangan antara ambisi dan etika. Jika kita tidak menuliskannya, kita mudah hilang di antara deadline dan notifikasi.
Opini: Kepemimpinan adalah soal empati, jelas dan konsisten
Opini saya soal kepemimpinan: itu bukan sekadar memerintah, melainkan memfasilitasi potensi orang lain. Aku pernah mengalami momen ketika seorang rekan muda ragu akan arah proyek karena targetnya terasa besar. Jujur aja, aku ingin segera memberi solusi. Tapi aku memilih mendengar dulu, mengajukan pertanyaan yang tepat, lalu bersama-sama merumuskan langkah yang jelas. Hasilnya kami tidak hanya menyelesaikan proyek, tapi juga membangun rasa percaya bahwa masalah bisa dihadapi tanpa saling menuduh. Itulah inti kepemimpinan yang kubawa.
Saya percaya kepemimpinan yang efektif adalah soal visi yang disampaikan dengan bahasa yang bisa dipahami semua orang, dari operator hingga eksekutif. Jika visi terlalu abstrak, orang bekerja karena perintah, bukan karena tujuan bersama. Maka penting untuk menceritakan cerita nyata, memetakan milestone kecil, dan mengadakan pertemuan reguler yang mengutamakan transparansi dua arah. Itu bukan kelemahan; itu kekuatan. Ketika orang merasa didengar, mereka merasa bertanggung jawab dan termotivasi untuk bertahan di jalur yang sama.
Jujur saja, gue sempet mikir bahwa ambisi besar akan membangkitkan budaya kejayaan. Namun tanpa empati dan tanpa ruang untuk bertanya, ambisi bisa berubah jadi beban. Karena itu aku mencoba memberi ruang untuk kegagalan kecil, mengapresiasi upaya, dan mendorong tim berbicara terbuka soal hambatan. Kepemimpinan sejati lahir dari tindakan kecil yang konsisten: menepati janji, memberi umpan balik yang spesifik, dan jujur ketika kita belum siap. Itulah ritme kerja yang membuat saya tetap manusia.
Humor Ringan: Cerita-cerita kecil yang bikin kita tetap waras
Gue suka momen-momen kecil yang bikin kita tetap manusia di antara rapat dan laporan. Misalnya rapat evaluasi bulanan yang seharusnya formal, bisa berubah jadi sesi curhat tentang kopi favorit. Pernah ada slide presentasi yang tertukar dengan foto liburan saya di bagian akhir, dan semua orang malah tertawa. Alih-alih panik, kami jadikan itu pelajaran: backup slide penting, humor menghidupkan suasana, dan kita bisa tetap profesional sambil memberi ruang bagi kehangatan antarelin orang di tim.
Di kantor juga kerap kejutan kecil yang bikin kita tidak terlalu serius. Suatu hari mesin kopi mogok tepat sebelum sprint dimulai. Daripada panik, kami bikin “briefing dapur” kecil: kopi instan, roti bakar, dan rencana ulang yang lebih fokus. Tertawa bersama ternyata membuat beban perubahan terasa lebih ringan. Kadang humor sederhana adalah kompas paling jujur untuk melihat bagaimana kita saling menjaga, bukan saling menuntut.
Refleksi Pribadi: Langkah nyata menuju masa depan yang lebih manusiawi
Di ujung perjalanan refleksi kali ini, aku tidak hanya menulis untuk menumpuk kata, tetapi untuk menata masa depan. Aku sudah menulis rencana 90 hari: membaca 30 menit setiap hari, menulis 10 menit refleksi sebelum tidur, dan mencoba satu praktik kepemimpinan baru tiap pekan. Tujuannya sederhana—konsistensi mengalahkan gairah yang naik-turun. Aku ingin terus belajar, berbagi, dan memimpin dengan integritas. Karena pada akhirnya pertanyaan yang paling penting adalah: apa langkah kecil hari ini yang membuat kita lebih manusia, lebih berguna, dan lebih berani?