<pSetiap hari aku menulis catatan kecil tentang hidup dan pekerjaan. Blog ini bukan sekadar tempat curhat, melainkan percobaan untuk memahami bagaimana keduanya saling memengaruhi. Ketika aku melihat kembali minggu-minggu terakhir—pagi yang sering terlambat, rapat yang terasa tak selesai, atau percakapan tatap muka yang membuatku percaya diri lagi—aku sadar bahwa hidup dan karier tidak bisa dipisahkan begitu saja. Mereka adalah satu paket besar: pilihan kecil yang dibikin tiap hari, cara kita menyikapi kegagalan, dan keberanian untuk mengubah arah ketika intuisi berkata bahwa kita sedang salah jalan. Dalam tulisan kali ini, aku ingin berbagi refleksi pribadi: bagaimana orang awam seperti aku belajar memimpin tanpa kehilangan diri, bagaimana opini-opini kita terbentuk, dan bagaimana kita tetap berjalan meski jalan terasa berliku.
Apa yang Menggerakkan Hidup dan Karier?
Jawabannya selalu sederhana, meski tidak mudah dijalankan: niat untuk jadi versi diri kita yang lebih baik dari kemarin. Ibu selalu bilang, kalau tidak ada yang dipelajari hari ini, maka kita kehilangan jam berharga. Aku tumbuh di rumah yang menekankan kerja keras, tetapi juga empati. Aku belajar mendengar orang lain sebelum memutuskan arah. Itu bukan sekadar membangun reputasi atau menambah angka di KPI; ini tentang bagaimana kita memilih untuk menjalani hari-hari yang kadang datar, kadang menegangkan. Di kantor, aku dulu percaya bahwa kecepatan adalah segalanya. Lalu aku menyadari bahwa kecepatan tanpa konteks membuat kita menabrak orang, bukan membantu mereka tumbuh. Fokus yang aku pelajari: menumbuhkan kejelasan kecil setiap hari. Sedikit saja kejelasan bisa mengurangi kebingungan besar di masa depan.
Di waktu-waktu tenang, aku sering bertanya pada diri sendiri: apakah karier kita sejalan dengan nilai-nilai pribadi? Jawabannya bukan selalu ya atau tidak. Kadang kita perlu menimbang ulang prioritas untuk tetap awas pada tujuan jangka panjang. Ketika kita mengayunkan diri antara tanggung jawab dan hasrat, kita berlatih berkata tidak pada sesuatu yang terasa mudah tetapi tidak membawa kita ke mana-mana. Itu pelajaran penting: kepemimpinan bukan tentang mengesankan orang dengan kata-kata, tetapi memberi contoh melalui konsistensi kecil yang bisa dilihat orang lain setiap hari. Dan ya, kita akan gagal. Tapi kegagalan itu justru tempat kita menakar batas, memperbaiki arah, dan kembali berjalan dengan lebih mantap.
Cerita Sehari-hari yang Mengubah Cara Saya Memimpin
Ada malam ketika rapat tim tertunda karena satu anggota tim butuh waktu untuk memahami arah proyek. Aku memutuskan untuk berhenti memburu solusi instan dan memilih duduk di sampingnya, menekankan bahwa tidak apa-apa untuk bertanya lagi. Aku mengajar diri sendiri untuk lebih banyak bertanya daripada memberi jawaban. Ketika ia akhirnya mengeluarkan kekhawatannya, udara ruang rapat terasa berbeda—lebih jujur, lebih manusiawi. Seorang pemimpin seharusnya menjadi tempat orang lain bisa mengeluarkan keresahan tanpa takut dihakimi. Dari momen itu, aku belajar bahwa keberanian bukan cuma mengucapkan pernyataan tegas di depan layar, tetapi juga menunda ego untuk memastikan orang lain didengar. Pelajaran kecil, dampaknya besar: ketika saya memberi waktu dan ruang, tim mulai menyalakan ide-ide yang selama ini tersembunyi di balik kekhawatiran.
Aku juga pernah mengalami kegagalan proyek yang terasa begitu dekat dengan ladang kehancuran pribadi. Alih-alih menghindar, aku memilih transparansi: aku jelaskan apa yang salah, bagaimana kita bisa memperbaikinya, dan apa yang tidak lagi kita ulangi. Respons tim berubah. Mereka tidak melihat kepemimpinan sebagai komando, melainkan sebagai kemitraan: bagaimana kita membangun sesuatu bersama meski ada batasan. Dalam setiap langkah kecil itu, aku menemukan bahwa kepemimpinan bukan soal mengatur orang, melainkan menuntun mereka—dengan contoh, kejujuran, dan rasa tanggung jawab yang jelas.
Opini: Pelayanan, Kejujuran, dan Ketahanan dalam Kepemimpinan
Seorang pemimpin yang baik tidak berdebat sambil berjalan, melainkan berjalan sambil mendengar. Pengalaman mengajar bahwa pelayanan kepada tim lebih penting daripada pencarian pengakuan pribadi. Ketika kita fokus pada bagaimana membantu orang lain tumbuh—memberi mereka alat, waktu, dan ruang untuk mencoba—hasilnya seringkali lebih kuat daripada strategi paling keren sekalipun. Kejujuran adalah fondasi lain yang tak boleh retak. Ketika kita berbicara secara jujur tentang batasan, kekurangan, dan risiko, kita menumbuhkan rasa aman bagi orang lain untuk ikut bertanggung jawab. Ketahanan, pada akhirnya, adalah kemampuan untuk tetap berdiri meski tekanan menggoyang bentang kerja. Itu proses berkelanjutan: menambah jam kerja yang tidak terlihat, seperti merevisi naskah presentasi di tengah malam, atau menahan diri dari keputusan impulsif ketika emosi tinggi. Semua itu membentuk wajah kepemimpinan yang tidak hanya dihormati, tetapi juga dipercaya.
Opini-ku tentang opini orang lain sering berubah seiring pengalaman. Aku percaya satu hal: kita sebaiknya mengutamakan dampak jangka panjang daripada pujian sesaat. Ketika kita membuka ruang bagi feedback, kita menyalakan potensi kreatif yang selama ini tertidur. Dan ketika kita memberi kredit kepada orang lain, kita menegaskan bahwa kepemimpinan adalah ekosistem, bukan monumen pribadi. Dalam konteks itu, ide-ide besar kadang lahir dari diskusi santai di lorong pekerjaan, bukan dari rapat formal. Karena itu, aku berusaha menahan diri untuk tidak menilai cepat, memberi kesempatan untuk tumbuh, dan menjaga agar empati tetap menjadi motor utama dalam setiap keputusan.
Langkah Nyata untuk Perbaikan Diri
Kalau ada jalan keluar dari kebingungan, itu adalah kebiasaan. Aku menulis jurnal singkat setiap malam: satu hal yang berhasil hari ini, satu hal yang belum berjalan, satu hal yang ingin aku coba besok. Kebiasaan itu sederhana, tetapi kuat. Ia membentuk pola berpikir yang lebih tenang di saat krisis. Aku juga mencoba melatih diri untuk bertanya lebih banyak daripada memberi jawaban. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa yang sebenarnya kamu butuhkan?” atau “Apa yang bisa kita lakukan agar orang lain merasa didengar?” seringkali membuka pintu solusi yang tak terlihat sebelumnya. Selain itu, aku belajar untuk tidak terlalu mengandalkan kata-kata besar. Kadang kejujuran lebih efektif daripada jargon kepemimpinan.
Akhirnya, aku menemukan bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja. Aku membaca kisah-kisah dari banyak orang, termasuk imradhakrishnan, yang mengingatkanku untuk menulis dengan kepekaan dan kejujuran. Tulisan-tulisan sederhana tentang kegagalan, harapan, dan keberanian bisa menjadi peta kecil yang membantu kita tetap berjalan. Jadi, jika kamu membaca ini dan merasa kehilangan arah, cobalah menulis beberapa paragraf tentang apa yang kamu pelajari hari ini. Mungkin itulah langkah kecil yang, bila dilakukan konsisten, akan mengubah cara kita melihat hidup dan karier di masa depan.